Showing posts with label Sejarah Sunda. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Sunda. Show all posts

Monday, June 13, 2011

Rahasia Hilangnya Kampung Sinjang Moyang di Situ Gede, Tasikmalaya



Telaga Situ Gede Tasikmalaya ternyata banyak menyimpan rahasia tersembunyi. Salah satunya soal keberadaan Kampung atau Lembur Sinjang Moyang yang sampai sekarang tidak tahu dimana tempatnya. Mungkin para karuhun disana sudah menyembunyikannnya rapat-rapat. 

Mengapa? Karena di Situ Gede ini dulunya merupakan kampung penuh aib dan Lembur Sinjang Moyang inipun dulunya itu tempat persembunyian para koruptor di zaman kerajaan bahkan dijadikan tempat menyimpan hasil kejahatannya.

Friday, May 21, 2010

Gunung Galunggung Dulu dan Sekarang

…Tusschen een en twee ure, des namiddags, trok een zware slag de aandacht der bewoners naar den kant der vallei. Van de voet van den Galoenggoeng, op de plaats waar zich de kom van de Tjikoenir bevindt, zagen zij met vervaarlijke snelheid een ontzaggelijken kolom van rook en damp opstijgen, die met ene geweldige kracht opwaart gedreven werd. Deze reusachtige zuil bedekte weldra den geheelen berg, en verspreidde eene volslagen duisternis over de geheele omstrek…

Thursday, April 22, 2010

Masjid Agung Manonjaya (1832 M) Tasikmalaya, Paduan Belanda, Sunda, Jawa

Tidak banyak masjid di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dari masa lalu berumur hingga ratusan tahun dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Di antara yang sedikit itu dan yang bisa disaksikan sampai sekarang adalah Masjid Agung Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Tuesday, April 6, 2010

Hutan-hutan Legenda Tatar Sunda

Banyak hutan di Jawa Barat memiliki nilai legendaris. Selain menjadi penyangga utama lingkungan, hutan-hutan tersebut juga menjadi sumber folklor atau cerita rakyat, yang tercatat dalam dongeng, kepercayaan lokal, babasan, dan paribasa.

Idiom “kawas badak cihea” sering muncul untuk menggambarkan seseorang berjalan bergegas, terburu-buru, tanpa melihat kiri dan kanan.

Sejarah Situ Gede dan Eyang Prabudilaya

Situ Gede tahun 1939 (dok.kang Andri S. Krisnaya)

Selain SITU GEDE, dalam sejarah ini diceritakan juga tentang CIBEUREUM, SAMBONG, MANGKUBUMI, SINGAPARNA dan MANGUNREJA

Monday, March 22, 2010

Sejarah MANONJAYA dan Pemindahan Pemerintahan Kabupatian

Mungkin dulur-dulur di lembur dan baraya anu dikota khususnya yang tinggal di Manonjaya Tasikmalaya masih belum ada yang tahu tentang sejarah atau asal-usul nama Manonjaya. Dalam kesempatan ini saya sengaja memposting ini agar bisa diketahuinya. Nama Manonjaya berasal dari kata cai panon (air mata), yang dalam arti keseluruhannya adalah airmata yang membawa kejayaan. Nama ini diambil ketika masa kebupatian yang kedelapan.

Saturday, January 23, 2010

Sejarah Kabuyutan Galunggung

Jika masyarakat Arabia mengenal Mekkah dan Yerusalem sebagai wilayah keramat, maka di tatar Sunda orang mengenal Galunggung sebagai sebuah kabuyutan.

Siapakah Prabu Guru Darmasiksa ? (Lanjutan catatan dari Naskah Amanat Galunggung)

Didalam naskah Carita Parahyangan diceritakan, Darmasiksa, atau ada juga yang menyebut Prabu Sanghyang Wisnu memerintah selama 150 tahun. Sedangkan di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Konon kabar sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya 1135 – 1159 M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).

Naskah Amanat Galunggung

‘Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah’. Demikian salah satu isi dari Amanat Galunggung.

Amanat Galunggung (Prabu Guru Darmasiksa)

Mari kita sejenak menengok kembali jauh ke masa silam. Masa dimana kemanusiaan masih diwarnai oleh kesejatian yang menjunjung tinggi dan memegang teguh nilai dan adab yang telah diwariskan oleh para karuhun dan pepunden.

Petuah, tutur yang diajarkan oleh para karuhun dan pepunden layak untuk dihadirkan kembali sebagai sebuah proses refleksi dan retrospeksi guna menemukan kembali nilai dan adab kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang saat ini telah tergerus oleh nafsu penghambaan keduniawian.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...