Tuesday, August 31, 2010

Cinta Rasulullah Pada Umatnya




Andai kita tahu,….

Bagaimana betapa pedih dan perihnya perjuangan menyebarkan Islam 
yang dijalani RasulullahSAW 
dan para sahabatnya,
kita akan sangat menghargai jerih payah mereka.

Kita akan bangga dengan tetesan keringat, 
darah dan air mata bahkan Nyawa Rasulullah
dan para sahabatnya 
di persembahkan untuk kita.....

dan Kita akan berusaha membayar usaha mereka
dengan prestasi yang kita tunjukkan, 
dalam membela agama nan suci ini. 
Aamiin.

Betapa Cintanya Beliau kepada Umatnya…
Seperti dalam konteks pecakapan beliau dengan para Sahabat2nya….

Dan bukti Nyata Cinta beliau kepada umatnya benar2 Suci adanya…...
Hingga akhir hayatnya Beliau buktikan cintanya kepada kita…..


hmmmm....
Engkau berkata lirih
Ayyu khalaqi a'jabu ilakum I'ma'nan ?
(Siapa makhluk yang imannya paling sempurna ?)
para sahabatnya pun menjawab; 
..... Malaikat, ya Rasulullah !

Bagaimana Malaikat tak beriman,
Bukankah mereka berada di samping Tuhan ? 
ujar Nabi…

..... Para Nabi, ya Rasulullah ! 
Para sahabat mencoba menjawabnya lagi….

Bagaimana Nabi tak beriman, Bukankah pada mereka turun wahyu, Jawab nabi !
..... Kalau begitu siapakah mereka, ya Rasulullah? Tanya Para sahabat..?!

(Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kami termangu, menunggu jawaban dari beliau…)

Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona Kami dengar sabda’mu,

Yang paling mempesona imannya adalah:
Mereka yang datang sesudah’ku !
Mereka beriman kepadaku….
padahal tidak pernah melihat atau berjumpa dengan’ku sebelumnya…

Yang paling mempesona imannya
mereka yang tiba setelah aku kelak tiada !!!
yang membenarkanku
tanpa pernah melihatku !!!!

Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasulullah jawab para Sahabat….
 Bukan ! jawab Nabi….
Kalian adalah sahabat-sahabatku…..
Tetapi, Saudaraku adalah…
Mereka yang tidak pernah berjumpa dengan’ku !
Mereka beriman pada yang ghaib
Mendirikan sholat, puasa,
berkurban utk ALLAH SWT dan,
Menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka…

(Kami terpaku,.... Langit Madinah yg bening, bumi Madinah yg hening)

Kami dengar lagi engkau bersabda……
Alangkah rindunya daku pada mereka
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka kelak..

Suaramu parau,
Butir-butir air matamu mulai tergenang...
Kau rindukan mereka ya Rasulullah...
Kau dambakan pertemuan dengan mereka, 
Ya Nabi Allah !

Subhanallah…..


(Dan, ini adalah sebuah Alkisah tentang totalitas cinta
yang dicontohkan Allah SWT lewat kehidupan Rasul-Nya....)

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,
burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.....

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah ; 
Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. 
Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. 
Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. 
Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku 
dan kelak orang-orang yang mencintaiku,
akan bersama-sama masuk surga bersama aku.;

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah
yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, 
Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. 
Ustman menghela napas panjang dan...
Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. 
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

Rasulullah akan meninggalkan kita semua; desah hati semua sahabat kala itu. 
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. 
Tanda-tanda itu semakin kuat,
tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang 
limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu,
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan
menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. 

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. 
Sedang di dalamnya,
Rasulullah sedang terbaring lemah
dengan keningnya yang berkeringat

dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
Bolehkah saya masuk?; tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk;
Maafkanlah, ayahku sedang demam, kata Fatimah yang
membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
Siapakah itu wahai anakku?
Tak tahulah aku ayah,
sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya; tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara,
dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut; kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? ;
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu; kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
Engkau tidak senang mendengar kabar ini? ; Tanya Jibril lagi.

Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, 
aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 
'Kuharamkan surga bagi siapa saja,
kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya' ; kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, 
urat-urat lehernya menegang.

Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini..
Lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam,
Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?  
tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal ; kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik,
karena sakit yang tak tertahankan lagi.
Ya Allah, dahsyat niat maut ini,
timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku,
jangan pada umatku.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali segera mendekatkan telinganya.
Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku 
(peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu)

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, 
dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
Ummatii, ummatii, ummatiii? (Umatku, umatku, umatku)
Dan, pupuslah kembang hidup manusia nan mulia itu.....


Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi


Saudara-saudaraku sekalian....
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kini, mampukah kita mencinta sepertinya......?!!! 
dengan Cinta nan suci...?!

Mudah2an Renungan ini dapat Menghadirkan kesadaran di hati kita kembali,
untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka !

Assalamualaika ayyuhan Nabiyuu wa rahmatullahi wabarakattuh
Assalamualaika ayyuhan Nabiyuu wa rahmatullahi wabarakattuh

Allahumma sholli 'ala Sayidinna Muhammad
wa 'ala alihii wa baarik wa saliim 'adzmaiin....

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...